
Saya percaya bahwa desa memiliki potensi yang luar biasa. Di dalamnya ada sumber daya alam, aset desa, pelaku usaha, masyarakat yang memiliki keterampilan, dan yang tidak kalah penting adalah generasi muda dengan ide, energi, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru.
Namun, potensi tersebut tidak akan menjadi kekuatan jika hanya kita bicarakan.
Potensi harus kita kelola.
Ide harus kita wujudkan.
Dan semangat harus kita ubah menjadi aksi nyata.
Karena itu, saya ingin mengajak kita semua, khususnya para pemuda desa, untuk mulai melihat desa bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai ruang untuk berkarya, berusaha, dan membangun masa depan.
Saya Ingin Mengajak Pemuda untuk Bergerak
Menurut saya, pemuda tidak cukup hanya dilibatkan ketika desa membutuhkan panitia kegiatan, kegiatan olahraga, peringatan hari besar, atau kegiatan sosial.
Peran pemuda jauh lebih besar dari itu.
Saya ingin melihat pemuda desa menjadi bagian dari proses mencari solusi atas persoalan desa. Menjadi orang-orang yang berani menyampaikan gagasan, mencoba peluang usaha, memanfaatkan teknologi, membangun jaringan, mengembangkan potensi lokal, dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Kita tidak harus menunggu semuanya sempurna untuk mulai bergerak.
Mari kita mulai dari pertanyaan sederhana:
Apa yang bisa kita lakukan untuk desa kita?
Apa potensi yang selama ini belum dimanfaatkan?
Apa aset desa yang belum produktif?
Apa masalah yang bisa kita ubah menjadi peluang?
Dan apa yang bisa kita kerjakan bersama dalam waktu dekat?
Saya yakin, jika pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai kita diskusikan bersama, akan muncul banyak ide yang selama ini mungkin belum mendapatkan ruang.
Dari Gagasan Menjadi Gerakan
Saya tidak ingin gagasan tentang pemberdayaan pemuda hanya berhenti pada forum diskusi atau rapat.
Kita perlu membangun kebiasaan baru:
berdiskusi → memilih ide → mencoba → mengevaluasi → mengembangkan.
Tidak perlu langsung membuat program besar.
Kita bisa memulainya dari satu kegiatan kecil. Satu usaha kecil. Satu kelompok kecil. Satu aset desa yang kita coba manfaatkan.
Jika berhasil, kita kembangkan.
Jika belum berhasil, kita evaluasi.
Yang penting adalah berani memulai.
Sebab saya percaya bahwa pengalaman menjalankan sebuah usaha kecil jauh lebih berharga daripada hanya membicarakan rencana usaha yang tidak pernah dijalankan.
BUMDes Harus Menjadi Mitra Pemuda
Saya juga melihat bahwa penguatan pemuda harus berjalan beriringan dengan penguatan BUMDes.
BUMDes memiliki posisi penting dalam mengelola potensi dan aset desa. Karena itu, saya membayangkan BUMDes ke depan bukan hanya sebagai lembaga yang mengelola unit usaha, tetapi menjadi mitra strategis bagi masyarakat dan pemuda dalam membangun ekonomi desa.
Pemuda bisa mengambil peran dalam berbagai bidang.
Mulai dari mencari ide usaha, melakukan riset pasar, produksi, pemasaran, pengelolaan media sosial, digitalisasi, pengembangan produk, hingga membangun jaringan pasar.
BUMDes dapat menjadi tempat bagi gagasan-gagasan tersebut untuk diuji dan dikembangkan menjadi usaha yang nyata.
Dengan pola seperti ini, saya membayangkan sebuah kolaborasi:
- Desa menyediakan arah dan kebijakan.
- BUMDes mengelola dan mengembangkan bisnis.
- Pemuda membawa inovasi, kreativitas, dan tenaga penggerak.
- Masyarakat menjadi bagian dari pelaku sekaligus penerima manfaat.
Inilah ekosistem yang menurut saya perlu kita bangun.
Aset Desa Jangan Hanya Dicatat, Tetapi Harus Memberikan Manfaat
Kita juga perlu mulai melihat aset desa dengan cara yang berbeda.
Aset desa bukan hanya tanah, bangunan, kendaraan, atau fasilitas yang tercatat dalam administrasi.
Ada aset yang jauh lebih besar, yaitu potensi masyarakat dan pemuda desa.
- Tanah desa bisa menjadi lahan produktif.
- Kolam bisa menjadi usaha perikanan.
- Bangunan yang belum optimal bisa menjadi ruang usaha.
- Produk UMKM bisa dipasarkan lebih luas.
- Potensi wisata bisa dikembangkan.
Dan pemuda dengan kemampuan teknologi, desain, pemasaran, produksi, maupun kewirausahaan bisa menjadi penggeraknya.
Karena itu, menurut saya, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah memetakan aset dan potensi desa, kemudian menentukan mana yang paling memungkinkan untuk dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.
Jangan sampai kita memiliki banyak aset tetapi belum mampu mengubahnya menjadi manfaat bagi masyarakat.
Saya Mengajak Kita Memulai dari 100 Hari Pertama
Kalau kita benar-benar ingin bergerak, mari kita buat langkah yang sederhana dan terukur.
Dalam 100 hari pertama, kita bisa melakukan beberapa hal:
Pertama, memetakan pemuda desa.
Siapa yang memiliki keterampilan, usaha, ide, dan minat untuk terlibat.
Kedua, memetakan aset dan potensi desa.
Apa yang kita miliki dan apa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Ketiga, membangun forum pemuda.
Sebuah ruang terbuka untuk berdiskusi, menyampaikan gagasan dan merancang aksi.
Keempat, memilih beberapa ide yang paling realistis.
Tidak perlu terlalu banyak. Kita pilih yang benar-benar bisa dikerjakan.
Kelima, membuat proyek percontohan.
Mulai dari skala kecil, dihitung hasilnya, kemudian dievaluasi.
Keenam, menghubungkan proyek yang berhasil dengan BUMDes.
Agar kegiatan yang awalnya merupakan inisiatif pemuda dapat berkembang menjadi unit atau kemitraan usaha yang berkelanjutan.
Kita Tidak Sedang Mencari Siapa yang Salah
Saya ingin menekankan bahwa gagasan ini bukan untuk mencari siapa yang selama ini kurang berperan.
Bukan tentang menyalahkan pemerintah desa.
Bukan tentang menyalahkan BUMDes.
Dan bukan pula tentang menyalahkan pemuda.
Justru saya ingin mengajak kita melihat apa yang bisa kita lakukan bersama mulai hari ini.
Pemerintah desa memiliki kewenangan dan sumber daya.
BUMDes memiliki peran ekonomi.
Masyarakat memiliki pengalaman dan potensi.
Pemuda memiliki energi, kreativitas, dan keberanian untuk berinovasi.
Jika semuanya berjalan sendiri-sendiri, hasilnya tentu tidak akan maksimal.
Tetapi jika kita satukan, saya percaya akan muncul kekuatan yang jauh lebih besar.
Pemuda Hari Ini Adalah Pemimpin Desa di Masa Depan
Ada satu hal yang menurut saya sangat penting.
Ketika kita berbicara tentang pemuda, sebenarnya kita tidak hanya sedang berbicara tentang kegiatan hari ini.
Kita sedang berbicara tentang masa depan desa.
Pemuda yang hari ini belajar mengelola kegiatan, besok bisa menjadi pengelola usaha.
Pemuda yang hari ini belajar membangun jaringan, besok bisa menjadi pengusaha.
Pemuda yang hari ini belajar menyelesaikan persoalan desa, besok bisa menjadi pemimpin yang memahami kebutuhan masyarakat.
Karena itu, memberikan ruang kepada pemuda bukan sekadar memberikan kesempatan kepada generasi muda.
Kita sedang menyiapkan regenerasi desa.
Mari Kita Mulai
Saya tidak ingin gagasan ini hanya menjadi tulisan.
Saya ingin tulisan ini menjadi ajakan.
Ajakan kepada pemuda yang memiliki ide untuk berani menyampaikannya.
Ajakan kepada pemuda yang memiliki kemampuan untuk berbagi.
Ajakan kepada pemerintah desa untuk membuka ruang kolaborasi.
Ajakan kepada BUMDes untuk menjadi mitra pengembangan usaha masyarakat.
Dan ajakan kepada seluruh masyarakat untuk mendukung anak-anak muda yang ingin melakukan sesuatu untuk desanya.
Kita mungkin tidak bisa menyelesaikan semua persoalan desa sekaligus.
Tetapi kita bisa memilih satu persoalan untuk diselesaikan bersama.
Kita mungkin belum bisa mengembangkan seluruh aset desa.
Tetapi kita bisa memilih satu aset untuk mulai dibuat produktif.
Kita mungkin belum bisa menciptakan banyak lapangan pekerjaan.
Tetapi kita bisa mulai dengan satu usaha yang membuka kesempatan bagi beberapa orang.
Dari satu langkah kecil, bisa lahir langkah berikutnya.
Dari satu usaha, bisa tumbuh usaha lainnya.
Dari satu kelompok pemuda, bisa muncul gerakan yang lebih besar.
Saya percaya desa yang maju bukan hanya desa yang memiliki banyak aset, tetapi desa yang mampu menggerakkan manusianya untuk mengelola aset tersebut secara bersama-sama.
Karena itu, mari kita mulai.
Pemuda bergerak.
BUMDes berdaya.
Aset desa produktif.
Masyarakat sejahtera.
Mari kita bangun desa kita, bukan hanya dengan harapan, tetapi dengan ide, keberanian, kolaborasi, dan aksi nyata.
Penulis: Deri Hidayah,S.E.,
Editor: Admin